Rengasdengklok, Revolusi Yang Tersisih Dari Ingatan Kolektif

Setiap menjelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Rengasdengklok, kota kecamatan yang terletak 23 kilometer utara kota Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terus dimunculkan ke dalam ingatan kolektif bangsa.

Sehari sebelum proklamasi dikumandangkan, 16 Agustus 1945, pemuda dan PembelaTanah Air (Peta) membawa Bung Karno (Soekarno) dan Bung Hatta (Mohammad Hatta) beserta Ny Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra ke Rengasdengklok. Mereka mendesak kedua pemimpin itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan RI karena Jepang sudah menyerah kepada Sekutu. Seperti ditulis Her Suganda dalam buku Rengasdengklok, Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945, di kota kecil ini pada 16 Agustus 1945 terjadi dua peristiwa penting. Pertama, keberadaan Bung Karno, Bung Hatta, dan Ny Fatmawati disertai Guntur Soekarnoputra di tempat itu.

Kedua, perebutan kekuasaan oleh masyarakat Rengasdengklok. Atas peran tokoh pemuda dan Peta pula, bendera Merah Putih dikibarkan mengganti bendera Jepang, Hinomaru, yang sebelumnya berkibar di halaman Kewedanaan Rengasdengklok pada hari yang sama. Soncho (camat) Rengasdengklokketika itu, Soejono Hadipranoto, memimpin upacara, diikuti pernyataan kemerdekaan RI.

Pedagang, petani, pegawai, pejabat, dan warga sipil lain di Rengasdengklok terlibat dalam aksi heroik tersebut. Proklamasi boleh jadi dikumandangkan di Jakarta, tetapi aksi Rengasdengklok menginspirasi karena lebih dulu menyatakannya.

Sejarawan Asvi Warman Adam, dalam pengantarnya di buku itu, menyebut Peristiwa Rengasdengklok membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dan menurut tata cara yang diatur Jepang.

Peristiwa Rengasdengklok memang menginspirasi kebulatan tekad bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengenang peristiwa dan menggelorakan semangat juang pemuda, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mewacanakan pembangunan Monumen Rengasdengklok. Wacana telah disampaikan sejak tahun 1990-an, yang kemudian ditindaklanjuti oleh PemerintahKabupaten Karawang dengan menyusun rencana pembangunan tahun 1996.

Namun, hingga hampir 15 tahun sejak direncanakan, monumen belum juga terwujud. Yang terbangun saat ini telah membentuk wajah monumen. Patung empat tangan karya Sidharta Soegijo (almarhum) menjulang setinggi 6 meter dengan lebar dasar 2,4 meter dan terlihat menonjol di kawasan itu.

Bangunan dirancang sebagai lambang empat kekuatan dari empat penjuru angin yang bersatu dan sedang mendobrak dari dalam tanah. Di situ telah terpasang altar ber-paving beton, bambu runcing raksasa, beberapa struktur beton persegi dengan ujung lancip mengelilingi tugu, dua bangunan menyerupai pendapa, serta dinding pagar monumen. Menurut rencana, di sekeliling altar itu diisi relief Peristiwa Rengasdengklok dan detik-detik Kemerdekaan RI 1945.

Hanya beberapa meter jauhnya dari lokasi Monumen Rengasdengklok, berdiri Tugu Kebulatan Tekad, yang dibangunsecara swadaya oleh masyarakat setempat tahun 1950.

Wedana Rengasdengklok Sutadiredja dan Camat M Abdullah menggagas pembangunan tugu untuk memperingati Peristiwa Rengasdengklok dengan menggalang dana penjualan kartu pos dan sumbangan masyarakat. Biaya pembangunannya Rp 17.500 dan diresmikan oleh Hatta pada peringatan Hari Kemerdekaan Ke-5 RI. Tugu ini jauh lebih sederhana ketimbang Monumen Rengasdengklok. Bangunannya lantai berundak lima, badan tugu, dan puncak berupa kepalan tangan kiri.

Rumah milik Djiauw Kie Siong-tempat singgah Bung Karno dan Bung Hatta-masih berdiri, melengkapi Rengasdengklok sebagai sebuah situs sejarah. Bangunan berukuran 10 meter x 40 meter itu berjarak sekitar 100 meter dari sisi Sungai Citarum. Lokasi rumah asli sudah tergerus sungai pembatas alam Kabupaten Karawang dan Bekasi. Rumah kayu itu kini ditempati generasi ketiga keluarga Djiauw. Sebagian bangunannya terancam rusak dimakan usia.

Peninggalan lain yang tersisa adalah Gedong Jangkung, gedung tertinggi bekas salah satu markas tentara Belanda di Rengasdengklok. Gedung itu jadi sarang burung walet.

Sepenggal puisi berjudul Karawang Bekasi karya Chairil Anwar seolah mewakili harapan Arsim Kasman, Suherman, juga pelaku, saksi, dan pemerhati sejarah lain. Penggalan puisi itu tertulis di Monumen Suroto Kunto di daerah Warungbambu, Karawang Timur. Puisi yang sama tertera di sudut Monumen Perjuangan Rawagede di Balongsari, Rawamerta:

Kami yang kini terbaring antara Karawang Bekasi tidak bisa teriak "merdeka" dan angkat senjata lagi Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami terbayang kami maju dan berdegup hati? Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak kami mati muda, yang tinggal tulang diliputi debu Kenang kenanglah kami..

ada bencana ada pengemis

Setiap kali ada bencana, skala lokal maupun nasional, selalu ada aktivitas sosial yang menunjukkan solidaritas untuk mengentaskan. Ini menandai kebersamaan, juga dalam bentuk keprihatinan, yang baik dan benar serta mulia.

Masyarakat mengambil langkah bergegas, jelas, nyata, tanpa menunggu instruksi dari atas. Bahkan kalau bencana ini berurutan dan berkesinambungan seperti di Wasior, Gunung Merapi, dan Kepulauan Mentawai, seperti yang terjadi sekarang ini. Tapi, juga menimbulkan kesan kurang menyenangkan. Yaitu lahirnya barisan pengemis gadungan yang meminta sumbangan. Mungkin saatnya kita berpikir ulang tentang cara penanganan seperti ini. Mengemis bukan pencitraan dan contoh yang membanggakan, apalagi jika menjadi kebiasaan.

Instan dan Instansi

Tindakan secara instan, secara langsung, merupakan reaksi yang meringkas mata rantai birokrasi atau cara kerja instansi yang memerlukan banyak rapat dan banyak tanda tangan sebelum sampai keputusan dan pelaksanaan. Unsur percepatan waktu sangat diperlukan dalam menanggapi bencana yang selalu dirasa tiba-tiba. Namun, agaknya menjadi tren, menjadi jalan keluar setiap kali— yang memang berulang kali terjadi.

Yaitu dengan mengumpulkan sumbangan secara langsung dari masyarakat di jalan-jalan. Saya merasa kurang sreg, setiap kali menjumpai. Para pengemis gadungan— istilah untuk mereka yang sehari-hari bukan pengemis dan tidak bekerja sebagai pengemis— ini bahkan berani merendahkan diri untuk menjadi pengemis. Mereka ini cukup gagah, kadang dengan jaket mahasiswa, kadang dengan identitas ormas atau sejenis itu, berada di jalan-jalan, terutama dekat jalan masuk tol.

Membawa kotak karton yang ditulisi “sumbangan untuk” dan menyodorkan untuk penderma. Kotak itu terbuka sehingga uang bisa dilemparkan begitu saja. Secara teknis menjadi gangguan karena jalanan menjadi lebih macet,lebih melambat. Secara etis juga menjadi gangguan mata karena wajah-wajah muda bersemangat ini harus bersaing keringat dengan pengemis yang tidak gadungan, yang berbekal kemoceng atau tepuk tangan atau sekadar pamer wajah memelas.

Secara ekonomis juga mudah menimbulkan tanda tanya, bagaimana pertanggung jawabannya mengingat tak ada catatan mendapat berapa dan diteruskan ke mana. Artinya lebih mudah menimbulkan prasangka buruk, dan tidak baik untuk keseimbangan hidup. Secara didaktis, tidak mendidik ke arah yang baik dan cara yang tidak menarik. Seolah membenarkan bahwa mengemis adalah suatu usaha atau kerja bagi yang bisa menemukan cara yang berbeda.

Ini menjadi pertanyaan memprihatinkan mana kala mengemis menjadi pendekatan, menjadi sikap budaya yang kita terima sebagai sesuatu yang biasa atau wajar sehingga bisa terus dilakukan dan dianggap benar. Bukan hanya di kota besar seperti Jakarta, pengemis gadungan dengan seragam dan sikap yang sama juga saya temukan di jalanan di Lampung atau Solo, baik di jalan besar atau jalanan masuk ke kampung.

Ini semacam pembenaran apa yang selama ini sudah berlangsung. Di jalanan yang rusak dan sedang diperbaiki juga ada tanda tidak resmi “sumbangan untuk.” Dengan begitu, menurut cerita, perbaikan sengaja diperlambat agar pengemis gadungan bisa bekerja lebih lama. Cerita semacam ini belum tentu benar walau belum tentu salah.

Instingtif dan Institutif

Dalam skala lebih besar, pengemis gadungan ini bukan lagi mengenakan jaket almamater, melainkan mengenakan dasi dan jas serta simbol bergengsi. Pada titik itu bukan nama perguruan tinggi yang dipertaruhkan, melainkan nama negeri. Yang dalam proses pengawasan, kontrol, atau bahasa populernya akuntabilitas, juga sama bisa dipertanyakan seperti kotak karton yang dijajakan terbuka.

Saya tidak sedang mempertanyakan itu semua. Saya hanya mencoba mengembalikan ke harga diri, mengingatkan banyak pendekatan lain yang mungkin tanpa dicurigai. Misalnya keterlibatan kampus atau organisasi kemasyarakatan dalam mencari dana spontan, apa salahnya dilakukan di halaman dan wilayah kampusnya sendiri-sendiri. Ini lebih benar dalam artian menuntut kepada diri sendiri, dan bukan membawa persoalan ke luar kampus.

Hal yang sama yang sudah berjalan pada beberapa perusahaan atau bahkan perkumpulan arisan untuk kemudian bisa disalurkan melalui lembaga yang dipercaya. Sekarang ini, selain Palang Merah Indonesia, media massa juga telah menunjukkan dan menjadikan wadah penampung dan penyalur secara terbuka.

Media massa sebagai institusi telah berhasil memainkan perannya tanggap bencana bukan dari kepentingan pemberitaan semata. Media massa elektronika seperti televisi dan radio, cetak baik harian atau berkala, telah menimbulkan rasa percaya di masyarakat. Dan mungkin akan lebih kuat, lebih bermanfaat jika—andai saja— secara bersama menyediakan satu nomor rekening saja.

Selain mempermudah ingatan juga sekaligus menunjukkan kebersamaan kepentingan dan mengurangi egoisme pribadi menjadi pengumpul dana spontan terbanyak. Sebaiknya begitu dan bisa begitu. Karena yang terutama dan utama adalah mewadahi solidaritas spontan yang mengagumkan dan masih berharga maknanya. Kita disadarkan bahkan nama-nama penyumbang spontan yang dermawan ini banyak menggunakan nama nn—alias no name, alias tanpa nama—atau sekadar menyebutkan sebagai “hamba Allah”, atau kalaupun pakai inisial adalah inisial yang umum.

Ini semua sebenarnya bukti kuat bahwa sikap instingtif saling membantu masih berlaku dan menjadi sikap budaya kebersamaan. Ini yang harus diuri-uri, dihidupkan, dijaga, dan terus digali ekspresinya. Kebersamaan sebagai satu bangsa bukanlah hanya karena sama-sama pembayar pajak, karena sama-sama bertanda penduduk Indonesia, melainkan juga tetap kebersamaan atas nilai-nilai kemanusiaan. Dengan begitu, setiap kali ada bencana, setiap kali pula diingatkan dan dikuatkan persaudaraan kita. Semua ini tak memerlukan pengemis gadungan yang berada di jalanan.

Mahasiswa "Makassar"

Mengapa Suka Rusuh?

Beberapa kawan dari luar Makassar sering bertanya mengapa demonstrasi mahasiswa Makassar suka rusuh? Jawabannya agak susah karena ini adalah fenomena yang terus berulang. Saya mencatat beberapa argumentasi yang sering saya dengar dari banyak orang di Makassar.

Pertama, mahasiswa Makassar punya pemahaman politik yang bagus. Pendidikan politik cukup efektif di kota ini sehingga mahasiswanya punya kesadaran yang tinggi dalam menyikapi fenomena politik. Dalam setiap peristiwa politik, mahasiswa selalu menyikapinya dengan demonstrasi atau nekad ke Jakarta untuk menemui politisi. Kalaupun demo rusuh dan selalu memacetkan jalan, itu disebabkan karena kemiskinan metodologi. Mereka tidak memperkaya dirinya dengan metodologi aksi yang baik, sehingga selalu mengulang-ulang apa yang dilakukan senornya. Kalau bukan tutup jalan, yaa pasti rusuh.

Kedua, demonstrasi mahasiswa Makassar terlampau sering ditunggangi para politisi. Makassar sering jadi tempat pengalihan isu politik. Mungkin argumentasi ini menempatkan mahasiswa sebagai subordinat dari para politisi. Tapi, apa boleh buat, sebab boleh jadi inilah kenyataannya. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak aktivis yang tiba-tiba saja kaya mendadak, padahal kerjaannya hanya demo saja. Ini adalah simbiosis mutualisme antara mahasiswa dan politisi. Indikasinya juga nampak pada setiap kali ada demo yang kemudian rusuh, selalu bersamaan waktunya dengan peristiwa politik yang cukup besar, apakah itu pemilu, pilkada, atau momen politik penting. Beberapa tahun lalu, polisi sempat menyerbu kampus UMI dan berujung pada pencopotan Kapolda Sulsel Irjen Yusuf Manggabarani. Semua orang mengaitkan peristiwa itu dengan situasi politik Jakarta yang memanas. Demikian pula saat konflik Ambon. Tiba-tiba Makassar ikut rusuh. Sekarang, demo ini jelas punya kaitan dengan kasus Century yang mulai memanas. Jangan-jangan ini cuma pengalihan isu saja. Entahlah.

Ketiga, fenomena demonstrasi itu bisa ditafsir sebagai tebalnya tembok kekuasaan sehingga aspirasi mahasiswa tidak bisa tersalurkan. Kata seorang kawan, kita harus ribut dulu biar didengar. Kalau demo dilakukan dengan santun, jangan harap akan didengarkan. Meskipun kita punya mekanisme perwakilan seperti DPR, namun tidak berarti aspirasi rakyat akan didengarkan dengan cepat. Buktinya, ada begitu banyak aspirasi yang mengalir begitu saja, tanpa didengarkan. Nah, demo rusuh bisa dilihat sebagai siasat mereka untuk didengarkan. Meskipun demo ini dampaknya sangat disayangkan sebab merugikan banyak pihak, termasuk mahasiswa sendiri.

Keempat, secara kultural, orang-orang di Makassar memang gampang ‘panas’. Di Makassar, saling melirik saja bisa menjadi awal perselisihan yang kemjudian berakhir pada saling tikam. Orang Makassar menjunjung tinggi apa yang disebut siri’ (harga diri). Ia boleh saja tidak punya apapun, namun ia mesti menjaga siri’. Pantas saja jika menonton televisi, berita-berita kriminal dari Makassar selalu mendominasi. Dalam hal demo hari ini, pemicunya adalah pemukulan yang dilakukan polisi. Mahasiswa lalu mengamuk dan menyerbu pos polisi. Selanjutnya konflik menyebar atas nama harga diri (siri’). Sebenarnya, banyak budayawan Bugis-Makassar yang mempertanyakan tafsir siri’ yang menurut mereka salah kaprah itu. “Siri bukan untuk kriminalitas. Siri’ itu harus diarahkan kepada hal yang positif. Misalnya sikap untuk menolak suap atau menolak korupsi,” kata Prof Nurhayati Rahman, budayawan Sulsel, kepada saya dalam banyak kesempatan. Sayangnya, tidak semua berpikir seideal para budayawan.

Kelima, boleh jadi para mahasiswa itu berharap bisa diliput oleh media massa secara luas. Saya sering mendengar cerita para mahasiswa yang menunda demonstrasi hanya gara-gara para jurnalis belum tiba. Mungkin saja mahasiswa itu hendak meniru Presiden SBY yang menunda pidato hanya gara-gara belum datang reporter televisi. Sementara bagi para jurnalis, aksi anarkis adalah lahan berita yang paling cepat tayang. Kata seorang jurnalis televisi, sekali berita kriminal ditayangkan, maka sang jurnalis menerima bayaran Rp 250 ribu. Bayangkan berapa penghasilan jurnalis kalau dalam sehari terdapat 10 kali peristiwa. Di sini terjadi simbiosis mutualisme antara media dan mahasiswa itu. Para mahasiswa itu memahami watak para pengelola media yang memegang kalimat sakti “Bad news is good news.” Mereka menyajikan good news demi berita yang segera tayang di semua televisi.

Keenam, demonstrasi besar adalah panggung bagi para aktivis untuk tampil. Ini sama dengan kalimat yang dipopulerkan Tukul yakni “Masuk Tivi.” Para mahasiswa itu ibarat seorang peragawati yang melintas di atas catwalk. Saya pernah mendengar cerita tentang seorang aktivis yang ikut demo, kemudian dipukuli. Media lalu meliput. Beberapa jam berikutnya, sang aktivis itu lalu mengirim sms pada semua keluarganya di kampung. “Tolong liat tivi. Ada berita saya dipukuli. Hebat khan?” Sering pula saya mendengar kisah tentang seorang aktivis yang tiba-tiba tersohor gara-gara memimpin demo dan sempat diwawancarai televisi. Ia jadi terkenal. Politisi dan bupati berebut untuk memasukkannya jadi tim sukses. Ia terkenal karena melewati jalan pintas yakni memimpin massa yang anarkis. Meskipun caranya merugikan banyak orang, tapi sang aktivis itu menuai popularitas.

***

Itu hanya beberapa argumentasi yang sempat saya catat. Terserah, pembaca mau sepakat atau tidak dengan beberapa argumentasi itu. Bagi saya, semakin banyak argumentasi dan asumsi, akan semakin baik untuk mengurai fenomena mengapa mahasiswa Makassar gampang rusuh. Terimakasih.

FENOMENA DEMONSTRASI


Saat ini sebuah nama sudah terdengar tidak asing lagi di telinga kita. Hampir setiap hari media menyediakan berbagai berita mengenai aksi satu ini yang dikenal dengan nama demonstrasi. Demonstrasi dalam bahasa Arab adalah muzhaharah artinya menampakkan. Namun demonstrasi identik dengan kekerasan, terjadinya pengrusakan sarana umum, dan terjadi bentrokan dengan aparat keamanan.

Demonstrasi mulai dikenal kebanyakan orang sejak masa revolusi Perancis (1789) yaitu penentangan kekuasaan absolut raja oleh rakyat, dan revolusi Bolchevix (1917) di Rusia. Saat itu di kepemimpinan Rusia dipegang oleh seorang raja didukung oleh pemuka agama Katolik Yunani (Kristen Ortodox). Aturan dan cara hidup diatur dibawah kepemimpinan raja dengan otoriter dan sewenang-wenang. Yang mempunyai kekayaan berkuasa sehingga semakin kaya, sedangkan si miskin semakin miskin karena telah tercipta jurang perbedaan besar oleh sistem feodal. Dalam sistem inilah yang memungkinkan mereka (raja/tuan tanah) untuk membuat aturan sendiri untuk melanggengkan kekuasaannya. Menurut logika tidak mungkin jika seseorang membuat aturan hukum untuk diterapkan di tengah-tengah masyarakat (termasuk pembuat aturan), kemudian malah merugikan diri sendiri sebagai penguasa, pastilah kebijakan yang dikeluarkan tersebut banyak menguntungkan diri. Karena sudah menjadi sifat (naluri) yang melekat pada manusia yaitu untuk mempertahankan eksistensi sebagai manusia.

Ketika masalah semakin besar yang ditimbulkan oleh sistem yang berpusat pada keuntungan tuan tanah (pemilik modal) ini, turunlah ribuan orang manusia ke jalanan (demonstrasi) menghendaki perubahan dan terjadilah revolusi fisik yang digerakkan oleh para pemikir didukung mayoritas masyarakat tertindas. Revolusi ini telah menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Revolusi fisik adalah metode atau cara baku yang dipakai oleh ideologi sosialis/komunis untuk membuat perubahan, maka tidaklah aneh jika revolusi ini selalu diikuti oleh peristiwa berdarah-darah.

Berbeda dengan metode perubahan yang dicontohkan Rasulullah SAW bersifat revolusi pemikiran, yang dilakukan adalah perubahan mendasar pada masyarakat dan negara tanpa kekerasan. Di tengah masyarakat jahiliyah waktu itu ditanamkan pemikiran mendasar yang sahih mengenai konsep kehidupan (aqidah), dari mana manusia berasal, untuk apa hidup di dunia dan akan ke mana setelah mati. Sehingga dari konsep yang menyeluruh (kulliyah) tersebut mengubah pandangan masyarakat Arab jahiliyah yang tidak beradab menjadi pandangan yang jauh ke depan, bukan hanya mendunia tapi juga meng-akhirat. Masyarakat Arab bersatu dengan bangsa lainnya menjadi umat yang satu (ummatan wahidatan), mengalami kegemilangan di urusan dunia tanpa melupakan urusan akhirat. Persaudaraan dan persatuan mereka diikat dalam Daulah Khilafah, tidak terhalangi masalah kebangsaan, batas negara, warna kulit, gender dan suku tetapi disatukan oleh aqidah.

Di dalam hadits, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika ia tidak mampu hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan hatinya, namun hal itu merupakan selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim). Dan dalam Al-Quran dikatakan hendaklah ada sebagian umat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar (QS. Ali Imran 104). Teknik (cara tidak baku) akan menyampaikan pesan banyak caranya, dari mulai media cetak, elektronik dan jaringan global internet. Bahkan dikatakan sama pahalanya dengan penghulu para syuhada jika menyampaikan kebenaran langsung kepada penguasa dan ia mati karenanya (Al-Hadits).

Cara teknis Islami lainnya adalah penyampaian melalui tarhib/masiroh (pawai damai) tanpa kekerasan yang berbeda dengan demonstrasi. Tarhib/masiroh dilaksanakan tanpa mengganggu kepentingan umum seperti tidak terganggunya pemakai jalan, tertib dan diniatkan hanya untuk beribadah kepada Allah semata. Tarhib/mashirah di dalam Islam intinya adalah dakwah dalam rangka mengajak kepada ma’ruf dan mencegah keburukan.

Kewajiban berdakwah tidak hanya dibebankan kepada kyai atau ulama saja tetapi juga menjadi fardhu ‘ain (kewajiban individu) sesuai kemampuannya. Jika berdakwah tidak lagi dilaksanakan maka kejahatan akan semakin merajalela, seperti tersebarnya AIDS akibat legalisasi pelacuran, hancurnya tatanan sosial masyarakat akibat perjudian, menurunnya pendidikan masyarakat akibat swastanisasi lembaga pendidikan dan dikuasainya sumberdaya alam oleh asing. Maka adzab Allah akan datang tidak hanya menimpa orang-orang zalim tetapi juga kepada orang beriman.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.(QS. Al Anfal 25).

Rasul pun memberikan peringatan kepada kita.

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُسَلِّطَنَّ عَلَيْكُمْ شِرَارُكُمْ فَيَدْعُوْا خِيَارُكُمْ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ

"Hendaklah kalian benar-benar menyuruh perbuatan yang ma’ruf dan benar-benar melarang perbuatan yang munkar, atau (bila tidak kalian lakukan) Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian berkuasa atas kalian semua (yang akibatnya banyak sekali kejahatan dan kemungkaran diperbuatnya) lalu orang-orang yang baik di antara kalian berdoa (agar kejahatan dan kemungkaran itu hilang) maka doa mereka (orang-orang baik itu) tidak diterima” (HR. Al Bazzar dan At Thabrani).

Jadi jelaslah, tarhib sebagai salah satu jalan dalam berdakwah merupakan sesuatu yang berarti di tengah-tengah masyarakat. Bukan semata-mata kegiatan tanpa makna yang diartikan sebagian orang sebagai kegiatan sia-sia. Tapi merupakan salah satu amal dakwah yang diharapkan bisa merubah pola pikir dan opini yang salah di tengah-tengah umat.

Wallahu a’lam bishawab.

VISITOR

Chat

Followers

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "